Friday, 21 September 2018

GEMAS TANCAB

Negara kita pada dasarnya negara agraris, negara dengan sumber daya dasar adalah pertanian. Berdasarkan pemahaman tersebut, sudah seharusnya mainstream pembangunan ekonomi masa depan negara ini dilaksanakan dengan mendasarkan pada upaya-upaya peningkatan kapabilitas sumber daya pertanian.

 

Pembangunan pertanian telah berperan dalam pertumbuhan ekonomi Jawa Timur maupun secara nasional melalui pembentukan PDRB, penyediaan pangan dan bahan baku industri, penciptaan kesempatan kerja serta peningkatan pendapatan masyarakat khususnya para petani di pedesaan.

 

Cabe atau lombok merupakan tanaman sayuran buah semusim dan termasuk jenis tanaman hortikultura (Rismunandar, 1984), yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai penyedap masakan dan penghangat badan. Dari hal tersebut lebih dikenal sebagai sayuran rempah atau bumbu dapur.

 

Produksi nasional cabe rata rata setiap tahunnya adalah 217.351 ton (Hendro, 2002). Oleh karena kebutuhan atau konsumsi yang semakin meningkat dan persebaran produksinya tidak merata sepanjang tahun di seluruh daerah, maka menyebabkan harga cabe tidak stabil dan tidak merata. Di suatu daerah harga cabe dapat mencapai harga yang sangat tinggi dan di daerah lain sangat murah. Stabilitas harga cabe di pasar sangat dirasa sulit, terutama bagi para petani. Misalnya pada hari hari besar (hari raya) dan pada saat tanam (paceklik), harga cabe melonjak sampai beberapa kali harga pada hari biasa. Tetapi sebalinya, pada hari hari panen harganya merosot jauh dibawah rata rata harga pasar.

 

Pada bulan Oktober – Desember  dan Februari – April  harga cabe di beberapa kota besar pada umumnya meningkat. Hal ini sesuai dengan kenyataan, pada bulan bulan tersebut adalah musim hujan lebat. Sehingga tidak banyak orang bertanam cabe, akibatnya hasil panen (persediaan) cabe rendah (paceklik), sedangkan permintaan bertambah. Hal ini yang dapat menyebabkan naiknya laju Inflasi pada suatu daerah.

 

Penanaman cabe merah pada musim hujan merupakan penanaman diluar musim (off season) yang penuh resiko, karena tanaman cabe merah tidak tahan terhadap hujan lebat terus menerus.

 

Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabe juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industri makanan dan industri obat-obatan atau jamu.

 

Mengingat pada bulan Januari – April 2017 diperkirakan curah hujan masih tinggi sehingga budidaya tanaman cabe di lahan sawah juga mengandung resiko terserang hama penyakit, maka dengan ini Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan akan melakukan kegiatan yang bertujuan untuk menekan fluktuasi harga cabe dan mengendalikan laju Inflasi di Kota Probolinggo, yaitu :

 

“GERAKAN MASYARAKAT TANAM CABE (GEMAS TANCAB) SATU ORANG SATU TANAMAN”

 

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan cabe baik untuk rumah tangga maupun industri dan sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pengembangan industri olahan, maka, peluang pengembangan usaha agribisnis cabe sangat terbuka luas.

 

Usaha peningkatan produksi cabe yang sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat, dapat dilakukan sejak budidaya sampai penanganan pasca panen yang baik dan benar. Salah satu langkah terpenting dalam perbaikan teknik budidaya adalah pemilihan varietas cabai hibrida yang akan dibudidayakan.

 

Konsumsi rata-rata cabai untuk rumah tangga di Jawa adalah 5,937 gram/kapita/hari (2,2 kg/kapita/hari). Pemakaian di perkotaan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pedesaan (5,696 gram/kapita/hari untuk perkotaan dan 5,900 gram/kapita/hari untuk pedesaan). Jenis cabai yang banyak dikonsumsi di perkotaan adalah cabai merah, kemudian cabai rawit dan hijau. Sedangkan pemakaian di pedesaan terbanyak adalah cabai rawit, kemudian cabai merah dan hijau.

 

 

A.         Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah ;

1.           Memulihkan keberdayaan masyarakat

2.          Menciptakan lapangan kerja baru yang berbasis potensi lokal.

3.          Meningkatkan pendapatan / penghasilan masyarakat.

4.          Menggerakkan roda perekonomian daerah.

5.          Mengelola pemanfaatan lahan secara berkelanjutan

 

 

B.       Out Put (Dampak Sosial Dan Ekonomi)

Dengan usaha kegiatan budi daya cabe ini diharapkan mempunyai dampak positif berupa:

1.    Tergarapnya potensi dan sumber daya lokal untuk dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang produktif dan konstruktif.

2.  Kestabilan lingkungan sosial dan keamanan karena masyarakat sasaran mempunyai lahan ekonomi secara mandiri.

 

C.       Sasaran

1.        Kelompok masyarakat (Dasa Wisma, PKK, Instansi Pemerintah, Perusahaan, Perbankan dan lain-lain);

2.        Sekolah-sekolah;